Genre: Romance, Drama, Slice of Life
Latar: Seoul, Korea Selatan
1.1 Peron yang Terlambat
Seoul selalu terasa berbeda ketika musim dingin datang.
Bagi sebagian orang, salju adalah sesuatu yang indah. Putih, tenang, dan romantis. Namun bagi Arga, seorang pria Indonesia berusia tiga puluh tiga tahun yang sudah hampir dua tahun tinggal di Seoul, salju hanyalah pengingat bahwa hidupnya sedang berjalan terlalu cepat.
Pagi itu, udara menggigit kulit ketika Arga berjalan keluar dari sebuah apartemen kecil di Mapo-gu. Ia mengenakan mantel hitam, syal abu-abu, dan sepatu yang mulai kehilangan warna aslinya.
Hari itu ia harus menghadiri sebuah pertemuan pekerjaan di Gangnam.
Arga mempercepat langkah menuju stasiun.
“Kalau terlambat lagi, habis sudah.”
Ia menuruni tangga menuju stasiun subway ketika tiba-tiba seseorang berlari dari belakangnya.
“잠시만요! Wait!”
Arga menoleh.
Seorang perempuan berdiri beberapa meter darinya. Rambut pirangnya sedikit berantakan karena tertiup angin. Ia mengenakan mantel krem panjang dengan syal merah tua. Di tangannya terdapat sebuah buku yang hampir terjatuh.
Perempuan itu berlari mendekat.
“Maaf,” katanya dalam bahasa Inggris dengan napas terengah. “Kereta ini menuju Gangnam, kan?”
Arga mengangguk.
“Iya. Jalur ini menuju Gangnam.”
Perempuan itu tersenyum lega.
“Thank you.”